Benarkah Olive itu hanya cinta uang dan bukan cinta pelautnya?
*Olive adalah sebutan kepada perempuan yang jadi pasangan pelaut
*Popeye adalah sebutan kepada seorang pelaut (seaman)
Beberapa kasus yang terjadi telah membuka mata masyarakat tentang siapa sebenarnya yang pantas dikecam atas perselingkuhan yang terjadi dalam masyarakat.
Dahulu beredar rumor bahwa pelaut itu punya simpanan di mana-mana. Setiap dermaga atau pelabuhan mereka memiliki seorang wanita simpanan di sana.
Hal ini terjadi untuk mengantisipasi manakala mereka tidak bisa menahan nafsu dan dengan adanya perempuan simpanan di tempat itu mereka bisa bercinta.
Namun, hal ini hanya sebatas rumor atau desas-desus alias gossip yang menyebar dari mulut ke mulut. Ada yang ditambah dan dikurangi.
Pada kenyataannya, ada juga pelaut yang sama sekali tidak demikian.
Pelaut yang menyadari arti penghakiman, dosa, dan karma. Pelaut yang memiliki Tuhan dan mencintai jalan yang diajarkan-Nya.
Sebaliknya, kenyataannya adalah, olive yang justru mengkhianati pelaut (popeye). sebagaimana dilansir oleh batamtoday.com, http://www.batamtoday.com/berita5585-Ditinggal-Berlayar,-Istri-Selingkuh-dan-Hamil-5-Bulan.html.
Pada peristiwa itu mengisahkan
Seorang isteri pelaut, De (33), yang ditinggal berlayar oleh suaminya, Ru (33), malah selingkuh dengan pria idaman lain (PIL) hingga hamil 5 bulan. Anehnya, perselingkuhan wanita dengan PIL-nya bernama Wr (26) ini terbongkar ke publik baru dalam sidang gugatan cerai yang dilayangkan suami sahnya Ru terhadap De, karena mengaku sudah tidak bisa lagi menerima kehadiran De yang telah hamil dari perselingkuhannya Ru.
Dengan kenyataan itu, masih dapatkan mempercayai cinta wanita yang mengaku mencintai seorang pelaut dengan tulus?
Berikut saya bagikan pengalaman pribadi saya.
Dahulu saya tidak tahu pelaut itu gajinya besar atau tidak.
Saya tahunya bahwa pelaut itu jarang di rumah, kehidupan mereka di rumah apung, dan mereka jarang kumpul dengan keluarga.
Tak ada keinginan untuk serius menjalin hubungan dengan pelaut,
Tapi saya tertambat pada hatinya yang lembut, dengan sopan santun dan kelembutannya.
Akhirnya kamipun jadian. Sejauh kami jadian, saya tak pernah mengira bahwa dia (pacar saya) itu bergaji sekian setiap bulan. Saya tahunya dia adalah seorang lulusan akademik maritim cilacap.
Lalu, saya dan dia terus menjalin komunikasi yang baik. Hingga dia dan saya juga saling berkenalan dengan orangtua via telepon seluler.
Masih seperti biasa saja karena banyak keraguan dalam diri saya. Saya seorang calon sarjana Teologia yang akan melayani di gereja, bagaimana bisa menyatu dengan seorang lelaki yang bawaan profesinya seperti itu. Saya selalu dihantui dengan omongan-omongan para mantannya yang selalu berkata ini dan itu.
Tapi ada satu titik dimana kami harus melangkah serius, yaitu setelah saya wisuda. Keluargaku mendesak supaya saya segera menikah. Waktu itu saya berumur 26 tahun. Umur yang tidak muda lagi bagi seorang wanita di daerah Nias (daerah asal saya).
Namun, bukan desakan itu yang membuat kami memutuskan untuk menikah, melainkan CINTA.
Secara paras, saya tidak secantik wanita yang biasa diimpikan oleh setiap laki-laki. tapi saya menyadari bahwa saya punya kharisma yang membuat kaum Adam merasa bahwa dalam diri saya (penulis) ada hal yang spesial.
Tapi bukan karena itu juga kami menikah. Kami menikah karena CINTA.
Dengan tekad yang bulat, suami memutuskan untuk datang ke rumah dan melamar saya. Sebulan kemudian kami menikah.
3 hari setelah menikah, saya mendengar dia menerima telepon dari perusahaan (apa gitu, saya gak tahu). Lalu dia memberitahu saya, bahwa perusahaan ini memanggil dia dengan gaji sekian dollar.
Jujur saya kaget, kok banyak banget? tapi suami saya menolaknya.
Saya jadi penasaran, sebenarnya gaji pelaut dengan ijazah ANT III yang bekerja di luar negeri itu berapa sih? Ternyata memang sekian.
Sebelum menikah, suami saya selalu menutup-nutupi hal ini kepada saya. Mungkin untuk mengetes saya.
Saya menyimpulkan bahwa kami menikah bukan karena dia memiliki status sebagai pelaut dan bukan juga karena uangnya, tapi karena kami sama-sama saling mencintai.
saya melihat dialah satu-satunya lelaki yang bisa memenangkan hati saya dengan baik. Dia begitu tenang dan menghargai saya.
Entah suatu saat ia "mungkin" berubah, tapi saya kira semua itu adalah diatur oleh niat.
Hati yang baik akan memiliki niat yang baik, niat yang baik akan menghasilkan tindakan yang baik, bermoral, dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Saya juga sebagai olive berusaha untuk menjadikan suami saya sebagai yang terutama dalam cinta dan kesetiaan. Andaikan ada kecurigaan dalam hati, saya berusaha untuk meluruskannya sehingga tidak timbul rasa ketidakpercayaan dalam hati.
Cinta pada suami atau istri dengan jarak jauh (LDR), dapat diatasi dengan memperbaiki komunikasi secara terus menerus. Mindset kita juga sangat menentukan hal ini.
Jika seorang laki-laki memilih seorang perempuan untuk menjadi istrinya, atau seorang perempuan memilih seorang laki-laki menjadi suaminya, maka itu adalah SATU PENGHARGAAN.
Belajarlah melihat kecocokan dan menyesuaikan ketidakcocokan dalam hubungan.
Dua ujung jarum yang sangat runcing jika dipertemukan akan sulit menyatu. Harus ada salah satu yang dipatahkan di ujungnya itu.
Demikian karakter dan sikap, hendaknya saling mengalah dan mengarahkan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kita sebagai makhluk yang diciptakan dengan cinta dan hasrat seksual, pasti ada banyak hari-hari yang kita lalui dengan kesepian, ada banyak malam-malam yang kita lewati dengan hambar, tanpa belaian dari suami.
Ada banyak kesempatan dimana kita merindukan sosok seorang suami.
Tapi bukankah itu semua sudah diatur oleh yang kuasa?
Jika seseorang memiliki iman dalam hatinya, ia menganggap nafsu seksual itu sebagai hal yang khusus dan istimewa hanya boleh diberikan dan disalurkan kepada suami atau istri yang sah.
Bukankah sebagai orang yang terpelajar kita tahu akibatnya jika melakukan hubungan seks kepada orang yang bukan pasangan suami atau istri kita?
Bukankah sebagai seorang anak bangsa yang berbudi pekerti luhur, dan berperikemanusiaan, kita tahu artinya sakit dikhinati?
Oleh karena itu marilah kita menjaga keutuhan keluarga kita.
Salam keluarga pelaut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar